Momentum Konsolidasi Nasional GMNI di Blitar: Menyatukan Barisan, Menata Kembali Arah Perjuangan

foto : seluruh pemimpin GMNI dari berbagai daerah se - indonesia berkumpul di ampiteater makam Bung Karno Blitar,saptu(21/06/2025)
foto : seluruh pemimpin GMNI dari berbagai daerah se - indonesia berkumpul di ampiteater makam Bung Karno Blitar,saptu(21/06/2025)

BLITAR | Siberjatim.co.id – Ratusan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari berbagai daerah di Tanah Air berkumpul di Kota Blitar dalam rangka Konsolidasi Nasional dan Ziarah Kebangsaan GMNI, yang digelar sebagai respon atas dinamika internal organisasi, khususnya terkait dualisme kepemimpinan di tingkat pusat.

Acara yang diinisiasi oleh DPD GMNI Jawa Timur ini menjadi momentum penting bagi seluruh elemen organisasi untuk menyatukan langkah, merumuskan arah masa depan GMNI, dan mengakhiri perpecahan yang telah menghambat gerakan selama hampir enam tahun terakhir.

Ketua DPD GMNI Jawa Timur, Hendra Prayogi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar temu kader, melainkan tonggak sejarah untuk membangun kembali GMNI sebagai organisasi yang solid, progresif, dan satu garis perjuangan.

“Konsolidasi ini melahirkan Forum Nasional Komunikasi Persatuan yang terdiri dari perwakilan DPD dan DPC se-Indonesia. Forum ini akan menjadi wadah komunikasi lintas struktural, mendorong pelaksanaan Kongres Persatuan GMNI 2025, serta memperkuat kaderisasi nasional,” ujar Hendra.

Hendra juga menekankan, pembentukan forum ini merupakan wujud tanggung jawab moral dan ideologis kader terhadap masa depan GMNI. “Kita ingin keluar dari kemelut dualisme secara kolektif dan mengembalikan GMNI ke satu komando perjuangan marhaenisme,” tegasnya.

Diketahui, dualisme kepemimpinan yang muncul pasca Kongres Ambon 2019, melibatkan dua kubu DPP GMNI yakni di bawah kepemimpinan Arjuna Putra Aldino dan Imanuel Cahyadi. Situasi ini berimbas pada stagnasi organisasi dan terhambatnya proses regenerasi kepemimpinan.

Melalui konsolidasi nasional di Blitar ini, seluruh perwakilan cabang sepakat membentuk Badan Pekerja Kongres Nasional GMNI 2025, dengan mengukuhkan kembali Surya Dwi Hadmaja sebagai Ketua dan Lazuardi Vivekananda Putrawardana sebagai Sekretaris.

“Kesepakatan ini lahir dari semangat juang cabang-cabang untuk bersatu dan mengakhiri perpecahan. GMNI harus kembali relevan, kuat, dan siap menjawab tantangan zaman baru, sejalan dengan semangat Samenbundeling van alle revolutionaire krachten,” tegas Lazuardi.

Badan Pekerja Kongres ini juga membuka ruang selebar-lebarnya bagi cabang-cabang GMNI yang belum bergabung, agar ikut mengirimkan perwakilannya sebagai bagian dari panitia Kongres Persatuan 2025, yang diharapkan menjadi titik balik sejarah bagi organisasi.

Salah satu hasil penting dari konsolidasi ini adalah usulan agar Kota Surabaya menjadi tuan rumah Kongres Ke-XXII GMNI tahun 2025. DPC GMNI Surabaya menyatakan kesiapannya mengemban amanah tersebut.

“Surabaya siap menjadi tuan rumah kongres jika itu menjadi keputusan terbaik. Kami berkomitmen menjadikan kongres ini sebagai momentum bersejarah untuk persatuan GMNI,” kata Ketua DPC GMNI Surabaya, Virgiawan Budi.

Untuk memastikan kelancaran persiapan, Badan Pekerja Kongres telah membentuk struktur kepanitiaan sebagai berikut:

Steering Committee (SC): Sultoni Edgar D
Organizing Committee (OC): Danang Adi
Anggota Panitia: M. Tohir (Mojokerto), Guruh (Kediri), Luluk Widianto (Tuban), M. Ainun Rozzaq (Nganjuk), Rossa (Probolinggo), Della (Pacitan), Vita Nerizza (Blitar), Moh. Faisal Adi Putra (Bojonegoro), Taufik (Tulungagung), Fawas El Madani (Bangkalan), Shaifi (Sampang), Syuhada (Pamekasan), Dandy (Pasuruan), dan Muhamad Amang (Ketua DPD GMNI Sulawesi Tenggara).
Badan Pekerja Kongres mengimbau seluruh kader GMNI di Indonesia untuk tetap menjaga persatuan dan tidak terpancing provokasi dari pihak-pihak yang ingin menggagalkan Kongres Persatuan.

“Kami mengajak seluruh cabang menjaga integritas gerakan. Kongres 2025 harus menjadi momentum regenerasi kepemimpinan yang progresif, adaptif terhadap era kecerdasan buatan (AI), dan menghasilkan keputusan strategis demi menyelamatkan masa depan organisasi,” tutur Surya Dwi Hadmaja.

Selain konsolidasi, ziarah ke makam Bung Karno di Blitar turut menjadi bagian penting agenda ini. Dengan semangat perjuangan sang Proklamator dan ideolog utama gerakan marhaenis, kader GMNI diajak kembali ke jati diri perjuangan: ideologis, progresif, dan berpihak pada rakyat.

Dari Blitar, GMNI menegaskan tekad untuk bersatu karena kuat, kuat karena bersatu. Menuju GMNI yang independen, relevan, serta tetap setia memperjuangkan cita-cita marhaenisme, merawat republik, dan amanat penderitaan rakyat.

•⁠ ⁠reporter : fiko