Mengritik vs Menyaci

Drama perseteruan antara rakyat dan Bupati Pati mencapai klimaksnya. Bahkan tidak kurang pihak istana, ikut merespons insiden ini. Substansi dari semua ini adalah sikap resistensi rakyat terhadap kebijakan pejabat yang dianggap merugikan kepentingan mereka, sehingga yang semula berawal dari kritik berubah menjadi cacian, bahkan amukan anarkis.

Mengritik dan mencaci adalah dua terma yang mempunyai beberapa kesamaan sekaligus perbedaan. Kesamaannya terletak pada kenyataan bahwa keduanya merupakan upaya mengomentari apa yang dilakukan orang lain, baik terhadap karya, usaha, tindakan, pemikiran, maupun hal-hal lainnya. Perbedaannya, mengritik cenderung lebih objektif.

Secara terminologis, mengritik mempunyai makna “to appreciate, to appropriate, to take intellectual possession, to establish in fine a relation with the criticized thing and to make it one’s own” (Henri James).

Jadi, ketika seseorang mengritik orang lain, hakikatnya ia sedang mengapresiasi dan menghargai apa yang dilakukan orang tersebut dengan cara memberikan perspektif berbeda. Tujuannya adalah membuka dialog yang dibangun di atas kesetaraan dan saling menghormati. Bahkan, mengritik pada hakikatnya merupakan bentuk empati terhadap apa yang dilakukan orang lain.

Sebaliknya, mencaci adalah bentuk justifikasi tertentu kepada orang lain yang dilakukan secara sepihak, tidak mengindahkan norma dan etika. Perwujudannya dapat berupa merendahkan orang lain, mencercanya, atau memakinya.

Seorang pengritik biasanya masih mau menerima umpan balik dari orang yang dikritik. Sebaliknya, seorang pencaci tidak pernah mau memedulikan apa pun sanggahan, pembelaan, ataupun klarifikasi dari orang yang dicaci.

Seorang pengritik belum tentu pendendam, sedangkan seorang pencaci cenderung memposisikan dirinya sebagai rival bahkan musuh. Pengritik masih berusaha objektif, sedangkan pencaci kerap mengabaikan objektivitas.

Menjadi pengritik lebih sulit dibanding menjadi pencaci. Pengritik biasanya menawarkan alternatif atau solusi, sedangkan pencaci akan segera mencari kesalahan lain manakala yang ia caci tidak terbukti. Secara psikologis, orang cenderung mempunyai kesiapan mental saat dikritik, tetapi cenderung resisten ketika dicaci.

Moralitas pengritik biasanya lebih baik dibanding moralitas pencaci. Pengritik sejati akan berupaya seobjektif mungkin dengan mempertimbangkan segala aspek. Sementara itu, pencaci semata-mata mengumbar nafsu, obsesi, dan ambisi tanpa memedulikan dampak caci maki yang ia lontarkan kepada orang lain.

Wa ‘ain al-ridha ‘an kulli ‘aibin qalilatun.

  • Penulis : Dr.Kharisul Wathoni (Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Ponorogo)