Foto : Suasana Puncak Selamatan Rakyat Rasuluhusada dan Bersih Desa Paringan, Rabu (13/5/2026).
PONOROGO I sibernas.co.id – Pemerintah Desa Paringan kembali menggelar adat istiadat desa, dengan menggelar acara Selamatan Rakyat Rasuluhusada dan Bersih Desa. Kegiatan ini digelar rutin di setiap tahunnya, berpusat di JogloJoglo Balai Kesenian Agungsari dengan penuh kemeriahan dan nuansa sakral, Rabu (13/5/2026).
Tradisi tahunan yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus bentuk nyata pelestarian adat istiadat dan budaya Jawa di tengah arus modernisasi.
Rangkaian kegiatan diawali dengan khataman al-qur, di lanjutkan ziarah makam leluhur Eyang Pronoijoyo yang diyakini sebagai tokoh yang babat Desa Paringan dan puncaknya dengan mengatakan tumpeng ageng Selamat Rakyat Rosuluhusada. Prosesi tersebut diikuti secara langsung Forkopimda Jenangan, Kepala Desa Paringan, perangkat desa, tokoh adat, tokoh agama, serta masyarakat sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan rasa syukur atas keberkahan yang diterima warga desa.
Usai ziarah, ratusan warga dari empat dukuh dan 38 RT mengikuti kirab budaya menuju Joglo Balai Kesenian Agungsari. Dalam kirab tersebut, masyarakat mengarak ratusan tumpeng dan ambengan berisi hasil bumi seperti padi, sayuran, buah-buahan, hingga ingkung ayam. Arak-arakan berlangsung meriah dengan balutan busana adat Jawa dan iringan kesenian tradisional yang menambah kekhidmatan suasana.

Kepala Desa Paringan, K.R.A. Suwendi Wijoyonagoro, S.H., M.Si menegaskan bahwa Selamatan Rakyat Rasuluhusada bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan memiliki nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang kuat bagi masyarakat.
“Ziarah makam Eyang Pronojoyo menjadi pembuka Selamatan Rakyat Rasuluhusada Desa Paringan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka dan membangun desa ini. Tradisi ini menjadi pengingat agar masyarakat tidak melupakan akar budaya dan sejarahnya,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi Bersih Desa dan Sedekah Bumi harus terus dijaga sebagai bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa serta memperkuat identitas masyarakat desa.
Puncak acara berlangsung di Joglo Balai Kesenian Agungsari melalui doa bersama dan kenduri rakyat yang diikuti seluruh elemen masyarakat.

Suasana kebersamaan tampak kental ketika warga duduk bersama menikmati ambengan dan tumpeng sedekah bumi sebagai simbol persatuan, gotong royong, dan rasa syukur atas hasil panen selama setahun terakhir.
Tradisi tersebut tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga ruang mempererat hubungan sosial antarwarga. Nilai spiritualitas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap leluhur berpadu dalam satu rangkaian adat yang masih lestari hingga kini.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Gemah Ripah Desa Paringan, Rajin berharap pelaksanaan Selamatan Rakyat Rasuluhusada dan Bersih Desa dapat membawa keberkahan, kesejahteraan, serta kemakmuran bagi seluruh masyarakat Desa Paringan.
“Melalui kegiatan sedekah bumi dan selamatan rakyat ini, kami berharap Desa Paringan selalu diberikan keberkahan, hasil panen yang melimpah, masyarakat yang rukun, serta tercipta gemah ripah loh jinawi bagi seluruh warga,” ujarnya.
Ia juga berharap Selamatan Rakyat Rasuluhusada dan Bersih Desa dapat terus diwariskan kepada generasi muda agar identitas budaya lokal tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman.
- Reporter : K.R.A. Anang Sastro.












