PONOROGO | Siberjatim.co.id – Dari lereng gunung gamping di Desa Sampung, sebuah suara pelan muncul dan menggema ke panggung nasional. Suara itu datang dari obrolan di warung dan dari tangan-tangan muda yang menulis aksara Jawa dengan penuh cinta. Suara itu kini diakui. Komunitas Literasi dan TBM Ruang Desa resmi lolos kurasi PFmuda 2025 oleh Pertamina Foundation.(13/06/2025)
Di balik keberhasilan ini, ada cerita sunyi. Bukan dari kota besar, bukan dari lembaga elite, melainkan dari tanah dusun yang lama dianggap senyap. Ruang Desa adalah bukti bahwa kebudayaan bisa lahir kembali dari tempat yang tak diperhitungkan bahwa aksara bukan hanya sejarah, tapi juga masa depan.
“Kami tidak sedang melestarikan, kami sedang melanjutkan, ujar Samsul Hadi, Ketua Komunitas Literasi Ruang Desa.
Mahasiswa pascasarjana UIN Kyai Ageng Muhammad Besari itu bukan hanya pembaca buku. Ia penggerak, perawat mimpi kolektif tentang desa yang tak sekadar objek pembangunan, tapi pemilik warisan kebudayaan yang hidup. Bersama teman-teman seperjuangan, ia menggagas “Aksara Jawa Ngrembaka”, sebuah program pendidikan luar sekolah dan perayaan budaya yang melibatkan anak-anak muda, petani, santri hinga masyarakat umum.

Program itu kini mendapat pengakuan nasional. Dari ribuan proposal, hanya segelintir yang dipilih. Dan salah satunya datang dari desa yang jauh dari pusat kekuasaan.
Proses kreatif Ruang Desa tak lepas dari kehadiran Reza Andik Setiawan, pendamping program sekaligus Direktur Universitas Terbuka Ponpes Uyun Al-Hikam serta pemilik Serambi Bedoyo, ruang spiritual dan budaya di Dusun Bantar Lor. Tempat itu menjadi titik temu ide dan aksi, tempat ngopi yang berubah menjadi tempat bermimpi.
“Tugas saya bukan menyulut api, tapi menjaga agar apinya tetap hidup,” kata Reza, dengan gaya khasnya yang tenang namun membumi.
Festival Literasi Budaya yang akan digelar Oktober nanti akan berpusat di sana. Dari Serambi Bedoyo, budaya akan dipentaskan bukan untuk dipertontonkan, tapi untuk dirayakan bersama.
Proposal “Aksara Jawa Ngrembaka” bukan hanya tentang kegiatan. Ia adalah visi: tentang desa sebagai pusat nilai, tentang aksara sebagai jembatan antar-generasi, tentang literasi sebagai bentuk keberanian.
Program enam bulan ini akan menghadirkan pelatihan menulis dan membaca aksara Jawa, geguritan, pranatacara (MC Jawa), hingga peluncuran platform digital budaya. Semua berbasis komunitas, semua berakar pada kehidupan sehari-hari.
“Budaya adalah bentuk kecerdasan tertua yang kita miliki. Sebelum algoritma, ada aksara,”kata Reza.
Di saat dunia berburu kecerdasan buatan, mereka memilih menimba dari kecerdasan tradisi. Adaptive Intelligence begitu mereka menyebutnya yakni kemampuan budaya untuk terus hidup dan beradaptasi, tanpa kehilangan jati diri.
Tidak ada ambisi gemerlap dalam keberhasilan ini. Tidak ada gegap gempita. Yang ada adalah rasa syukur, dan tekad untuk tetap melangkah perlahan tapi pasti. Karena bagi mereka, ini bukan akhir melainkan titik terang baru.
Festival yang akan datang bukan sekadar acara. Ia adalah bentuk penghormatan kepada bahasa, kepada tutur yang nyaris tenggelam, kepada warisan yang terus dijaga dengan cara yang sederhana.
“Kami hanya ingin anak-anak desa tahu bahwa tulisan leluhurnya indah, dan layak dicintai,” ucap Samsul.
Ketika banyak orang berpaling dari desa untuk memburu mimpi di kota, Ruang Desa justru memilih sebaliknya: menanam harapan di tanah sendiri. Dari buku-buku yang diwariskan, dari aksara yang diajarkan kembali, mereka menulis sejarah baru.
Bukan sejarah yang ditulis di kantor pemerintahan, tapi sejarah yang hidup di warung kopi, di suara gamelan, di baris geguritan, dan di tawa pemuda saat belajar aksara.
Kini, setelah lolos tahap kurasi PFmuda, mereka tahu satu hal pasti: bahwa suara dari pinggiran bisa didengar, asal ia jujur dan tulus.
Komunitas Ruang Desa telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk berkarya. Mereka tidak punya kantor besar, tapi mereka punya keberanian. Mereka tidak punya anggaran tetap, tapi mereka punya warisan tak ternilai: budaya.
Dan kini, mereka tak sendiri. Ada ratusan, mungkin ribuan komunitas kecil lain yang melihat ini sebagai api kecil yang bisa menghangatkan Indonesia dari bawah.
Aksara Jawa mungkin tak banyak dipakai,api ia masih punya suara, Dan Ruang Desa adalah salah satu penjaganya.
- Reporter : Minul Anggraeni












