Safari Ziarah Grebeg Suro 2025: Kang Bupati Sugiri dan Forkopimda Tabur Doa di Makam Leluhur Ponorogo

PONOROGO | Siberjatim.co.id – Menjelang puncak perayaan Grebeg Suro 2025, Kang Bupati Sugiri Sancoko bersama Wakil Bupati Bunda Lisdyarita dan jajaran Forkopimda Ponorogo mengawali prosesi sakral ini dengan safari ziarah ke sejumlah makam tokoh bersejarah. Rangkaian ziarah ini menjadi bentuk penghormatan dan takzim atas jasa para pendiri serta leluhur yang berjasa besar dalam membentuk sejarah dan jati diri Kabupaten Ponorogo.

Ziarah diawali di Makam Batoro Katong di Desa Setono, Kecamatan Jenangan, Rabu pagi (25/6/2025). Batoro Katong yang memiliki nama asli Lembu Kanigoro merupakan putra Prabu Brawijaya V dan tokoh utama pendiri Kadipaten Ponorogo. Sebagai Adipati pertama di Bumi Wengker, nilai-nilai kepemimpinannya masih terus menjadi inspirasi hingga kini.

Dari Setono, rombongan melanjutkan perjalanan ke makam KRMA Mertonegoro di Desa Tajug, Kecamatan Siman. Ia dikenal sebagai bupati Ponorogo ke-13 dan berjasa memindahkan pusat pemerintahan dari kota lama ke kota baru, membuka lembaran baru dalam pembangunan wilayah Ponorogo.

Ziarah pun berlanjut ke Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, tempat dimakamkannya Kiai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar dan pendiri Pesantren Tegalsari. Pesantren inilah yang kelak melahirkan banyak ulama ternama di penjuru Nusantara dan menjadi titik penting perkembangan Islam di Jawa.

Tak ketinggalan, penghormatan diberikan kepada Raden Mas Tumenggung Tjokronegoro I bupati ke-15 Ponorogo di Kelurahan Kauman. Beliau merupakan salah satu keturunan dari Kiai Besari yang turut memperkuat pondasi pemerintahan dan spiritualitas masyarakat Ponorogo.

Rangkaian ziarah juga menyentuh Astana Srandil di Desa Srandil, Kecamatan Jambon, yang merupakan tempat peristirahatan terakhir RM Mertokusumo, seorang patih besar dari Kabupaten Polorejo. Ziarah ditutup dengan tabur doa di Taman Makam Pahlawan Wira Patria Paranti, sebagai simbol penghargaan atas perjuangan para pahlawan yang gugur demi bangsa dan daerah.

Dalam pernyataannya, Kang Giri menyampaikan bahwa ziarah ini bukan hanya sebatas tradisi, tetapi merupakan upaya konkret membumikan rasa hormat kepada pendahulu.

“Ziarah ini adalah bentuk takzim kami kepada para leluhur yang telah berjasa. Generasi muda tidak boleh melupakan asal-usulnya. Kita berdoa bersama agar Ponorogo terus damai, masyarakatnya rukun dan penuh berkah,” tutur Kang Giri penuh harap.

Ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai luhur peninggalan para pendiri Ponorogo masih sangat relevan untuk dijadikan pijakan membangun masa depan.

Usai berziarah, prosesi Grebeg Suro berlanjut dengan bedol pusaka dari Pringgitan (Rumah Dinas Bupati). Tiga pusaka sakral, yakni Tombak Kyai Tunggul Naga, Angkin Cinde Puspita, dan Payung Kyai Tunggul Wulung diarak ke area Makam Batoro Katong dan diinapkan semalam sebagai bagian dari tradisi spiritual menjelang datangnya 1 Muharram.

Dengan seluruh rangkaian ini, Grebeg Suro 2025 tidak sekadar menjadi perayaan budaya, melainkan momentum spiritual dan historis yang merekatkan warga Ponorogo dengan akar sejarahnya. Sebuah warisan tradisi yang terus hidup dan menghidupkan.

  • Reporter : Minul Anggraeni