Foto : Kirab Malam Selikuran Keraton Surakarta, Tradisi Menyambut Lailatul Qadar, Senin (09/3/2016).
SURAKARTA I sibernas.co.id – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat kembali menggelar tradisi Hajad Dalem Kirab Malam Selikuran pada malam ke-21 Ramadan. Prosesi dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dengan berkumpulnya para abdi dalem di Bangsal Sewayana, kawasan Sitinggil, mengenakan busana adat Jawa berwarna hitam dan putih.
Dalam prosesi tersebut, para abdi dalem membawa lampu ting serta lampion berbentuk bulan, bintang, kaligrafi Allah dan Muhammad, serta lambang Keraton Surakarta. Selain itu, terdapat dua tumpeng besar yang ditempatkan dalam kotak kaca dan puluhan kotak berisi tumpeng kecil yang akan dibagikan kepada masyarakat.

Sebelum kirab dimulai, sejumlah sesaji disiapkan dan doa-doa bernuansa Islam-Jawa dilantunkan oleh abdi dalem berbusana putih. Suasana khidmat semakin terasa saat pasukan prajurit keraton mulai memainkan musik tradisional sebagai tanda dimulainya kirab.
Rombongan kirab kemudian bergerak dari Alun-Alun Utara menuju Bundaran Gladag hingga ke Taman Sriwedari. Sepanjang perjalanan, lantunan selawat dikumandangkan oleh para abdi dalem, diiringi musik dari prajurit keraton.
Setibanya di Taman Sriwedari, sebanyak 1.000 tumpeng dibawa ke panggung untuk didoakan oleh para ulama.

Tumpeng tersebut berisi nasi gurih, kedelai hitam, wajik, jadah, serta cabai hijau yang ditempatkan dalam wadah daun pisang yang disebut takir. Pengageng Parentah Keraton Surakarta, KGPH Dipokusumo menjelaskan bahwa takir melambangkan ajakan agar manusia senantiasa bertakwa dan berzikir kepada Tuhan.
Sementara jumlah 1.000 tumpeng dimaknai sebagai simbol malam Lailatul Qadar yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Ia menambahkan, jumlah tersebut juga berasal dari konsep “tumpeng sewu”, yakni 40 kotak yang masing-masing berisi 25 tumpeng sehingga totalnya mencapai 1.000 buah. Tradisi Malam Selikuran sendiri telah berlangsung turun-temurun sejak masa Sultan Agung Hanyokrokusumo dan dipengaruhi dakwah budaya para wali seperti Sunan Kalijaga.
Rangkaian Hajad Dalem Malam Selikuran kemudian ditutup dengan tausiyah oleh ulama asal Lamongan, KH Ahmad Muwafiq atau yang dikenal dengan sebutan Gus Muwafiq. Tradisi ini juga diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri dari keluarga keraton, sentono dalem, serta para abdi dalem.
- Reporter : Sastronagoro.












