Foto : KGPA Panembahan Dipokusumo saat memberikan Kekancingan kepada takmir Masjid Agung Solo, Kiyai Muhtarom, Jumat (2/1/2026).
SOLO I sibernas.co.id – Paku Buwono XIV Purbaya melaksanakan salat Jumat di Masjid Agung Solo. Usai salat, PB XIV Purbaya memberikan Nawala Kekancingan (surat keputusan) kepada Takmir Masjid Agung Solo, Kiyai Muhtarom.
Pemberian Kekancingan Paku Buwono XIV Purbaya didampingi oleh Penganggeng Parentah Keraton Solo, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati (KGPA) Panembahan Dipokusumo.

Foto : Sinuhun PB XIV Purboyo saat di konfirmasi sejumlah Jurnalis, Jumat (2/1/2026).
“Masjid Agung adalah bagian dari Keraton Kasunanan yang tidak bisa terlepaskan. Jadi, pastinya semua niatnya baik dan tidak ada salahnya Nawala itu diberikan karena Kanjeng Muhtarom memang sosok yang bertugas di Masjid Agung,” kata PB XIV Purbaya saat ditemui di Masjid Agung, Jumat (2/1/2026).
Ia berharap dengan diberikannya Nawala Kekancingan tersebut, bisa terus menjaga dan merawat Masjid Agung dengan baik. Ia juga menyinggung rencana pembenahan bangunan ke depannya.
Masjid Agung kemarin sudah sempat direnovasi. Jika masih ada yang kurang, mungkin di lain waktu bisa dibenahi kembali,” bebernya.
Terpisah, Wakil Pengengeng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Purbaya, KRMT Pustoko Ningrat mengagakan bahwa ada tiga poin nawala Kekancingan untuk takmir Masjid Agung. Poin pertama, kata dia, seruan terhadap Keraton Solo dan Sinuhun Paku Buwoni XIV Purbaya.
“Ini esensinya ada tiga tadi. Yang pertama adalah menegaskan bahwa harus adanya kesetiaan terhadap Keraton Surakarta Hadiningrat, terhadap Susuhunan Pakubuwono yang jumeneng, kemudian terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.
Sedangkan di poin kedua yakni melayani umat dan melestarikan tata cara yang masih berlaku di Masjid Agung Keraton Solo.
“Yang kedua, harus melayani umat dan melestarikan adat dan tata cara yang masih berlaku di Masjid Agung Karaton Surakarta Hadiningrat ini,” ucapnya.
Yang ketiga, lanjut KRMT Pustoko Ningrat ini yang poin pokoknya, di mana Keraton Surakarta Hadiningrat ini kan memiliki manhaj-manhaj yang sudah dianut sekian ratus tahun sejak zaman Demak, kemudian Pajang, Mataram, Kartosuro, dan Surakarta hingga saat ini.(di langsir detikjateng.com).
- Reporter : Arif/red.












