Sinuhun Pakoe Boewonk PB XIV Purboyo Silaturahmi di Kediaman Almarhum Kangmas Tarmadji Budi Harsono

Foto : Sinuhun Pakoe Boewonk PB XIV Purboyo Silaturahmi di Kediaman Almarhum Kangmas Tarmadji Budi Harsono, Kamis (25/12/2025).

MADIUN I sibernas.co.id – Sinuhun Pakoe Boewono PB XIV Purboyo melaksanakan silaturahmi ke beberapa titik di wilayah Jawa Timur, salah satunya di kediaman almarhum Kangmas Tarmadji Budi Harsono di Jl. MT. Haryono, Kota Madiun, pada Kamis (25/12/2025).

Silaturahmi PB XIV ini, sebagai laku pangruwating sesambungan batin, wujud penghormatan kepada para sepuh, sekaligus nguri-uri nilai adiluhung warisan leluhur. Kedatangan PB XIV Purboyo diterima langsung oleh keluarga almarhum dalam suasana penuh kekeluargaan dan keteduhan batin.

Dalam komunikasi yang disampaikan, PB XIV Purboyo menegaskan bahwa silaturahmi yang di lakukan ini, merupakan laku eling lan waspada, bukan sekadar pertemuan lahiriah, melainkan upaya menyambung rasa, menjaga tata krama, serta menghormati ikatan persaudaraan yang telah terjalin sejak para leluhur.

Perlu di ketahui bahwa almarhum Kangmas Tarmadji Budi Harsono, sudah menjadi bagian dari keluarga keratan Surakarta sejak beliaunya masih hidup. “Mereka yang memahami duduk perkaranya tentu paham, bahwa kami datang kesini bukan dalam rangka apa pun selain tilik dulur,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa almarhum Kangmas Tarmadji Budi Harsono telah memperoleh gelar dan diangkat sebagai kerabat Keraton. Oleh karena itu, silaturahmi ini merupakan bentuk kunjungan kekeluargaan kepada para kerabat terlebih dahulu, sebagaimana ajaran leluhur tentang mendahulukan sedulur lan sesambungan darah.

Senada dengan itu, Bagus Rizki Dinarwan menambahkan bahwa silaturahmi tersebut perlu dimaknai secara jernih dan tidak ditarik ke pemahaman yang keliru.

“Apapun gelar yang pernah disematkan kepada almarhum Kangmas Tarmadji, itu adalah bagian dari perjalanan hidup dan pengabdian beliau. Kehadiran Sang Raja adalah bentuk welas asih dan penghormatan kepada keluarga, bukan hal lain,” tuturnya.

Ia menegaskan bahwa nilai utama dari peristiwa tersebut adalah laku andhap asor, tepa selira, serta menjaga kerukunan, sebagaimana ajaran Jawa yang menempatkan persaudaraan di atas kepentingan apa pun.

  • Reporter : Ang/red.