PONOROGO | Siberjatim.co.id – Panggung rakyat yang semula digadang-gadang menjadi ajang refleksi 100 hari kinerja Bupati Ponorogo justru berujung ricuh. Acara yang digelar di depan Kantor DPRD Kabupaten Ponorogo ini mendadak dihentikan usai aksi stand up comedy yang menyulut emosi sejumlah peserta. (30/05/2025)
Acara tersebut menampilkan beberapa kelompok masyarakat, mahasiswa, dan aktivis kreatif yang mengusung konsep satir dalam menyampaikan kritik sosial dan pemerintahan. Namun suasana berubah panas saat salah satu penampil melontarkan sindiran tajam soal keberadaan patung reyog yang belakangan dijuluki ‘Monumen Kucing’.
Pernyataan itu langsung menyulut kemarahan peserta dari kelompok lain yang merasa simbol kebanggaan warga Ponorogo sedang dihina.
“Sebutan Monumen Kucing ini menyakitkan bagi kami dan warga Sampung. Ini bukan kritik, ini penghinaan!” tegas Aan Parianto alias Anom Wengker, koordinator kelompok masyarakat yang merasa diserang dalam aksi tersebut.
Anom menyebut penyampaian kritik dalam panggung rakyat itu sudah keluar jalur. Bukan hanya tidak berimbang, ia bahkan menuding bahwa agenda tersebut sarat provokasi dan manipulasi informasi. Ia mengaku sudah lama memantau jejak kelompok penggagas acara, yang diketahui sebagai bagian dari komunitas kreatif bernama Peta Project.
“Kelompok ini juga bikin podcast dan konten YouTube yang kami nilai isinya sangat menyudutkan. Ini bukan lagi ruang demokrasi, tapi upaya memecah belah dengan dalih kritik,” ujarnya geram.
Kericuhan sempat membuat suasana mencekam hingga panitia memutuskan menghentikan acara. Sejumlah pihak bahkan bersiap melaporkan kegiatan ini ke pihak berwenang dan berjanji akan mengusut siapa dalang di balik panggung rakyat yang berubah jadi panggung provokasi tersebut.
Sementara itu, dari pihak Peta Project belum ada pernyataan resmi terkait insiden ini. Namun dari sejumlah unggahan media sosial, terlihat beberapa akun justru menganggap kericuhan ini sebagai bukti bahwa ruang ekspresi di Ponorogo mulai disumbat dan kebebasan berbicara sedang digerogoti.
- Reporter : Minul Anggraeni












