Pesan Dari Adikmu Kangmas, Jangan Biarkan Ego Mengalahkan Persaudaraan

Foto : KRA. Anang Sastro, loyalis SH Terate Pusat Madiun, Rabu (30/9/2026).

MADIUN | sibernas.co.id – Persaudaraan tidak akan kokoh apabila setiap para tokoh di organisasi ini mempertahankan egonya. Ketika merasa paling benar, paling kuat, paling berjasa, atau paling berhak dihormati, yang terancam bukan hanya hubungan antar sesama, tetapi juga nilai luhur yang seharusnya dijaga bersama.

Hal tersebut disampaikan KRA. Anang Sastro, loyalis SH Terate Pusat Madiun, dalam refleksi bertajuk “Ego yang Tinggi”. Ia mengingatkan bahwa kedudukan, kekayaan, ilmu, kekuatan maupun jasa bukan alasan bagi seseorang untuk meninggikan diri di hadapan orang lain.

Menurut Anang, manusia harus menyadari bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan. Jabatan memiliki batas, kekayaan dapat berkurang, kekuatan akan melemah, sementara usia terus berjalan.

“Jangan sampai apa yang kita miliki membuat kita lupa siapa yang memberi. Semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin rendah hati,” tegasnya.

Ia menilai persoalan sering kali menjadi besar bukan semata karena perbedaan, tetapi karena ego yang tidak mampu dikendalikan. Perbedaan pendapat seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami, bukan alasan untuk saling merendahkan.

Bagi Anang, kekuatan sejati bukan ketika seseorang mampu mengalahkan orang lain dalam perdebatan atau menunjukkan pengaruhnya. Kekuatan justru terlihat ketika seseorang mampu menahan amarah, menjaga ucapan, mengendalikan tindakan dan menundukkan egonya sendiri.

“Ego tidak harus dimatikan, tetapi harus dikendalikan. Ketika ego dikendalikan oleh akal dan hati, lahirlah kebijaksanaan. Tetapi ketika akal dan hati dikendalikan ego, kita bisa kehilangan kehormatan diri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa semakin besar kekuatan yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk melindungi dan memberi manfaat. Demikian pula semakin tinggi ilmu yang dimiliki, semakin besar kewajiban untuk menjadi teladan, bukan menggurui.

Pesan tersebut, kata Anang, sangat relevan dengan nilai budi pekerti luhur yang menjadi bagian penting dalam ajaran SH Terate. Dalam pandangannya, kebesaran organisasi maupun seseorang tidak semestinya diukur dari seberapa kuat mampu menunjukkan pengaruh, tetapi dari seberapa besar mampu menjaga persaudaraan dan memberikan manfaat.

“Jangan sampai ego membuat kita lupa bahwa persaudaraan jauh lebih berharga daripada sekadar kemenangan dalam mempertahankan pendapat,” tandasnya.

Ia kemudian mengingatkan tiga prinsip sederhana yang menurutnya perlu menjadi pegangan dalam kehidupan: Cepat jangan sampai mendahului. Pintar jangan sampai menggurui dan Tajam jangan sampai melukai.

Anang menegaskan, manusia yang benar-benar tinggi bukan mereka yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Manusia yang kuat bukan yang gemar menundukkan sesama. Dan manusia yang berilmu bukan yang merasa paling tahu.

“Rendah hati bukan berarti rendah diri. Rendah hati adalah kesadaran bahwa di atas kemampuan kita masih ada kekuasaan Allah, di atas ilmu kita masih ada ilmu Allah, dan di atas segala yang kita miliki semuanya hanyalah titipan,” pungkasnya.

Pada akhirnya, kata Anang, yang akan menentukan nilai seseorang bukan seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang ditinggalkan dan seberapa besar manfaat yang diberikan kepada sesama.

Sebab persaudaraan akan tumbuh ketika ego ditundukkan, hati dibesarkan, dan setiap kekuatan digunakan untuk menjaga bukan melukai.

  • Reporter : Timsus Pusat.