KRA. Anang Sastro: SH Terate Harus Tetap Berdiri Diatas Persaudaraan, Bukan di atas Perebutan Kekuasaan

Foto : KRA. Anang Sastro Loyalis SH Terate Madiun Sektor Media dan Ke Humasan, Selasa (29/9/2026). 

MADIUN | sibernas.co.id – Madiun bukan sekadar alamat administratif. Bagi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Madiun adalah ruang sejarah, tempat nilai-nilai persaudaraan diwariskan dan jejak para pendahulu organisasi terus hidup.

Karena itu, setiap upaya membawa perselisihan kepentingan organisasi ke Bumi Madiun dinilai harus mempertimbangkan satu hal mendasar, yakni Madiun memiliki sejarahnya sendiri dan tidak boleh dijadikan medan perebutan kekuasaan.

KRA Anang Sastro, salah satu loyalis Madiun, menyampaikan pesan keras di tengah dinamika internal PSHT yang kembali mengemuka. Menurutnya, persoalan kepemimpinan organisasi tidak boleh dipaksakan dengan pendekatan kekuasaan, tekanan massa maupun konfrontasi.

“Madiun bukan lahan untuk merebut kekuasaan. Madiun adalah rumah sejarah SH Terate. Rumah yang dibangun para leluhur tidak boleh dijadikan arena perebutan kepentingan,” tegas KRA Anang Sastro, Selasa (29/9/2026).

Ia mengingatkan, perjalanan SH Terate tidak lahir dari ambisi jabatan. Organisasi tersebut dibangun melalui perjuangan panjang, pengorbanan dan keteguhan para pendahulu yang menanamkan nilai persaudaraan sebagai fondasi utama.

Karena itu, menurut KRA Anang, siapa pun yang ingin berbicara tentang masa depan SH Terate harus terlebih dahulu memahami sejarah dan karakter Madiun.

“Jangan hanya melihat Madiun sebagai tempat berlangsungnya sebuah acara. Lihat Madiun sebagai bagian dari DNA sejarah SH Terate. Ada makam para leluhur, ada padepokan, ada masyarakat dan ada nilai yang hidup turun-temurun di situ,” ujarnya.

KRA Anang juga menyinggung sosok Kangmas RM Imam Koesoepangat yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan SH Terate. Baginya, perjuangan para pendahulu tersebut menjadi pengingat bahwa organisasi tidak dibangun untuk kepentingan pribadi maupun perebutan kursi kepemimpinan.

“Para leluhur tidak mewariskan ambisi kekuasaan. Mereka mewariskan persaudaraan, budi pekerti dan tanggung jawab. Jangan sampai generasi hari ini justru meninggalkan warisan konflik,” katanya.

Ia menilai, perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan sesuatu yang dapat terjadi. Namun, perbedaan tidak boleh berubah menjadi permusuhan, apalagi menyeret masyarakat Madiun ke dalam ketegangan.

“Kalau para tokohnya organisasi sedang berbeda pandangan, selesaikan dengan cara organisasi. Kalau ada persoalan hukum, tempuh hukum. Tetapi jangan menjadikan jalanan sebagai tempat menyelesaikan persoalan persaudaraan,” tegasnya.

Menurut dia, ukuran kekuatan sebuah organisasi bukan terletak pada seberapa besar massa yang dapat dikumpulkan, melainkan pada kemampuan menjaga ketertiban, menghormati sejarah dan menyelesaikan persoalan tanpa merusak persaudaraan.

KRA Anang menegaskan bahwa loyalitas terhadap Madiun bukan berarti menutup pintu bagi siapa pun. Justru sebaliknya, siapapun yang datang ke Madiun harus datang dengan penghormatan terhadap sejarah dan kultur masyarakatnya.

“Madiun terbuka untuk siapa saja. Tetapi jangan datang dengan cara membawa pertarungan. Jangan datang untuk menguasai. Datanglah dengan niat menjaga persaudaraan,” tandasnya.

Ia pun menyerukan agar seluruh elemen SH Terate menghentikan eskalasi dan mengembalikan persoalan kepada nilai dasar yang sejak awal menjadi roh organisasi.

“Menang tanpa ngasorake. Kuat tanpa menindas. Berbeda tanpa bermusuhan. Itulah yang seharusnya menjadi jalan SH Terate,” ujarnya.

Bagi KRA Anang, pada akhirnya yang akan bertahan bukan siapa yang paling keras berteriak atau paling banyak membawa massa, melainkan nilai yang mampu melewati pergantian generasi.

“Jabatan akan berganti. Pengurus akan berganti. Generasi akan berganti. Tetapi sejarah Madiun tidak akan berganti. SH Terate harus tetap berdiri di atas persaudaraan, bukan di atas pertarungan kekuasaan,” pungkasnya.

  • Reporter : Timsus-Joko Utomo.