PONOROGO | Siberjatim.co.id – Suasana penuh semangat dan kekhidmatan menyelimuti Kelurahan Surodikraman, Kecamatan Ponorogo Kota, dalam rangkaian kegiatan budaya tahunan Kirab Gedang Sewu dan Doa Bersama dalam rangka Bersih Desa Surodikraman, Sabtu (24/5). Tradisi yang sudah memasuki tahun ketiga ini tak sekadar menjadi agenda ritual, tetapi juga simbol persatuan, filosofi budaya, dan harapan akan kemajuan desa.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak Jumat (23/5) dengan ziarah ke makam Mbah Mojo, leluhur yang diyakini sebagai tokoh awal pembabat wilayah Surodikraman. Ziarah ini diikuti para sesepuh desa dan panitia sebagai bentuk penghormatan dan napak tilas nilai-nilai spiritual leluhur.
Sabtu malam, kirab budaya Gedang Sewu digelar meriah. Ribuan pisang (gedang) diarak warga bersama iring-iringan budaya khas Panaragan Ponorogo. Kirab ini menjadi simbol kerukunan dan tekad warga untuk saling bergandeng tangan membangun desa.
Acara dilanjutkan dengan penyambutan dan sambutan dari berbagai tokoh. Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, mengapresiasi kekuatan tradisi lokal ini:

“Saya mengucapkan terima kasih karena ada kelurahan di Ponorogo yang tradisi bersih desanya menjadi semiotika budaya dan simbol filosofis. Guyub rukun adalah kunci keberhasilan penataan daerah. Harapannya, ekonomi tumbuh, budaya tumbuh, kerukunan tumbuh—menuju Ponorogo Hebat. Siapa kita? Warok Ponorogo. Mau ke mana kita? Kompak menuju Ponorogo Hebat Bermartabat!”

Lurah Surodikraman, Ibu Supatmi, juga menyampaikan harapannya agar tradisi ini menjadi inspirasi.
“Alhamdulillah, ini tahun ketiga Kirab Gedang Sewu dan Doa Bersama. Harapannya, masyarakat terus kompak dan guyub rukun menuju masyarakat luar biasa.”
Camat Kota Ponorogo, Shandra Aji Hidayanto, menambahkan bahwa semangat kebersihan desa selaras dengan rencana besar Grebeg Suro mendatang.
“Semoga warga semakin tentram sentosa. Sesuai pesan Pak Bupati, nanti 1 Juni ada Car Free Night di Jalan Urip Sumoharjo. Mari kita hias rumah, sambut Grebeg Suro dengan semangat baru.”
Tak kalah penting, Heru Trimawan dari Pamong Wengker menyatakan komitmen membangkitkan kembali identitas budaya asli Ponorogo.
“Ponorogo terlalu lama tertutup budaya luar. Melalui tradisi seperti ini, identitas Panaragan bisa hidup kembali,”harapnya.

Ritual juga diwarnai oleh simbol-simbol sakral yang dijelaskan oleh Mbah Purnomo, sesepuh seniman Reyog:
- Tebu hitam melambangkan keyakinan
- Daun jarak penolak hal buruk
- Alang-alang penghalau rintangan
- 7 Air suci kanugrahan sebagai harapan kemakmuran
- Gedang sewu sebagai simbol kerukunan dan doa bersama
Acara ditutup dengan potong tumpeng dan doa bersama yang diikuti tokoh masyarakat, perangkat desa, warga, hingga tamu kehormatan seperti Sekretaris Kementerian Koordinator (Sesmenko) Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso dan Anggota DPRD Kab. Ponorogo Agung Priyanto,S.E.,M.M.
Tradisi ini bukan sekadar budaya, tapi juga ikhtiar spiritual dan sosial menuju Ponorogo yang semakin maju dan bermartabat. Kelurahan Surodikraman membuktikan bahwa kearifan lokal masih menjadi ruh pembangunan yang tak lekang oleh zaman. (Advetorial).
- Reporter : Minul Anggraeni












