Bikin Resah…!, Massa Berpakaian Preman Diduga Kelompok PSHT Pimpinan M. Taufiq, Bentrok Tak Terhindarkan Dengan Aparat 

Foto : Saat Massa Berpakaian Preman Diduga Kelompok M. Taufiq Merangsek ke Padepokan PSHT, Bentrok Tak Terhindarkan Dengan Aparat, Selasa (22/9/2026). 

MADIUN I sibernas.co.id – Situasi di Jalan Merak, Kota Madiun, Selasa (22/9/2026) pagi, mendadak memanas. Ribuan massa yang diduga merupakan oknum warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dari kubu pimpinan Muhammad Taufiq, sebagian datang dengan pakaian sipil atau preman, berupaya menuju Padepokan Agung Madiun (PAM).

Pergerakan massa tersebut membuat aparat keamanan meningkatkan pengamanan. Personel gabungan Brimob serta kepolisian dari Polres Madiun Kota dan Polres Madiun diterjunkan untuk menghadang massa agar tidak merangsek menuju kawasan padepokan.

Ketegangan kemudian pecah menjadi bentrokan antara massa pesilat dan aparat. Rekaman peristiwa tersebut juga beredar di media sosial.

Kasi Humas Polres Madiun Kota, Ipda Aris Yunandi membenarkan adanya bentrokan tersebut. “Betul kejadian hari ini,” kata Aris saat dikonfirmasi, Selasa (22/9/2026).

Menurut keterangan kepolisian, massa yang terlibat diduga merupakan loyalis atau kelompok PSHT pimpinan Muhammad Taufiq. Mereka disebut hendak menuju Padepokan Agung Madiun menjelang rencana pelaksanaan Parapatan Luhur (Parluh).

“Jadi rombongan ingin ke Padepokan menjelang acara Parapatan Luhur (Parluh),” ujar Aris.

Rencana Parluh tersebut dijadwalkan berlangsung 25–27 September 2026. Namun, Pemerintah Kota dan Kabupaten Madiun bersama Forkopimda sebelumnya telah menyepakati agar kegiatan tersebut tidak dilaksanakan di wilayah Madiun dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan masyarakat.

Dalam situasi tersebut, aparat yang telah bersiaga kemudian menghadang pergerakan massa. Kekhawatiran utama aparat adalah kemungkinan massa bertemu dengan kelompok PSHT pimpinan R. Moerdjoko HW yang selama ini berada di sekitar Padepokan Agung Madiun Jl.Merak no. 10 dan di Jl. Merak no. 17 Madiun.

Ketegangan pun meningkat. Massa yang tidak dapat melanjutkan perjalanan terlibat aksi saling dorong hingga lempar botol minum dan ahirnya bentrok dengan aparat.
Peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 09.00 WIB hingga menjelang pukul 10.00 WIB. Aparat akhirnya berhasil menghalau massa dari akses menuju padepokan.

Pakaian Preman, Massa Tetap Mengatasnamakan PSHT:

Yang menjadi sorotan dalam peristiwa tersebut adalah penampilan sebagian massa yang tidak mengenakan atribut organisasi dan datang menggunakan pakaian sipil atau preman. Meski demikian, berdasarkan keterangan kepolisian, mereka disebut merupakan massa dari kubu PSHT pimpinan Muhammad Taufiq.

Forkopimda Sudah Ingatkan Risiko Keamanan:

Jauh sebelum insiden terjadi, Forkopimda lintas sektor telah membahas rencana Parluh pimpinan Muhammad Taufiq. Pemerintah Kota Madiun menyatakan bahwa keputusan agar Parluh tidak dilaksanakan di Kota maupun Kabupaten Madiun didasarkan pada pertimbangan keamanan dan keselamatan masyarakat.

Bahkan, potensi benturan dengan kelompok PSHT pimpinan R. Moerdjoko HW menjadi salah satu pertimbangan karena konflik antar kelompok tersebut pernah terjadi sebelumnya. Forkopimda Magetan kemudian menyatakan kesiapan menjadi alternatif lokasi pelaksanaan Parluh.

Di sisi lain, pihak PSHT pimpinan Muhammad Taufiq sebelumnya tetap menyatakan Parluh 2026 dijadwalkan di Padepokan Agung Madiun Jl. Merak no. 10. Bentrok di Jl. Merak kini menjadi peringatan serius bahwa ketegangan internal organisasi tidak boleh berubah menjadi gangguan keamanan dan ketertiban umum.

Sementera itu, saat ini aparat masih melakukan pengamanan di sekitar kawasan Padepokan Agung Madiun untuk mencegah massa kembali berkumpul dan menghindari bentrokan susulan.

  • Reporter : Timsus.