Foto : Saat Prosesi Wilujengan Kenduri Agung Hari Jadi Ponorogo ke-530, di Pendopo Kabupaten Ponorogo, Senin (10/8/2026) malam.
PONOROGO I sibernas.co.id – Peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo ke-530 tahun 2026 ditandai dengan Wilujengan Kenduri Agung yang digelar di Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, Senin (10/8/2026) malam.
Kegiatan tersebut menjadi momentum refleksi sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat Ponorogo kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perjalanan panjang Kabupaten Ponorogo yang kini memasuki usia 530 tahun.

Wilujengan Kenduri Agung bukan sekadar seremoni peringatan hari jadi. Tradisi ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat, pelaku seni dan budaya, hingga masyarakat umum.
Berbagai ubo rampe tradisi Jawa, khususnya yang berkaitan dengan adat dan budaya asli Ponorogo, turut disajikan dalam kegiatan tersebut. Nilai yang dibangun bukan hanya tentang pelestarian tradisi, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong di tengah perkembangan zaman.

Peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo ke-530 tahun ini mengusung tema “Sekar Kinanthi, Weding Daya”. Tema tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah identitas visual berupa logo Hari Jadi ke-530 yang sarat makna.
Logo tersebut sebelumnya diluncurkan oleh Plt. Bupati Ponorogo, Hj. Lisdyarita, pada Kamis (6/8/2026) di kawasan Jalan Alun-Alun Utara Ponorogo.
“Logo tersebut tidak hanya menjadi penanda peringatan bertambahnya usia Ponorogo, tetapi juga merepresentasikan semangat masyarakat dalam menjaga budaya, memperkuat persatuan, serta mendorong pembangunan daerah,” ujar Lisdyarita.

Menurutnya, logo Hari Jadi ke-530 Ponorogo secara visual terdiri dari tiga elemen dasar. Elemen tersebut membentuk angka 530 dan menyerupai bunga yang saling terhubung.
Bentuk tersebut merepresentasikan “Sekar Kinanthi”, yang dimaknai sebagai bunga kehidupan yang tumbuh dalam tuntunan nilai-nilai luhur serta kebersamaan masyarakat Ponorogo.
Empat kelopak bunga yang menyatu juga memiliki makna filosofis, yakni persatuan masyarakat, harmoni budaya, gotong royong, dan sinergi pembangunan.
“Seluruh elemen logo bertemu pada satu titik pusat, menggambarkan keberagaman masyarakat Ponorogo yang dipersatukan oleh semangat yang sama untuk maju bersama. Dan malam ini kita syukuri, semoga semua hajat kita senantiasa dikabulkan Allah SWT,” harap Lisdyarita.

Sementara itu, Ketua Pamong Wengker Ponorogo, Kangmas Heru Trimawan, S.Pd, menegaskan bahwa Wilujengan Kenduri Agung merupakan bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi dan budaya Ponorogo.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Lebih dari itu, Wilujengan menjadi wadah untuk mempertemukan dan merajut seluruh elemen yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian adat dan budaya Ponorogo.
“Wilujengan Kenduri Agung dalam rangka peringatan Hari Jadi Kabupaten Ponorogo ke-530 tahun 2026 ini merupakan bentuk syukur sekaligus upaya merajut seluruh elemen, terutama pemerintah, lembaga adat, para tokoh seni dan budaya, agar bersama-sama melestarikan adat istiadat Ponorogo,” ungkap Heru.
Kangmas Heru menambahkan, Wilujengan Kenduri Agung telah digelar untuk kedua kalinya pada 2025 dan 2026. Keberlanjutan kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjaga identitas budaya Ponorogo.
Di tengah derasnya perubahan zaman, pelestarian tradisi dinilai semakin penting. Sebab, usia 530 tahun bukan sekadar angka, melainkan perjalanan panjang yang menyimpan sejarah, nilai, identitas, dan warisan budaya yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Wilujengan Kenduri Agung pun menjadi pengingat bahwa pembangunan Ponorogo tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana jati diri, adat, budaya, persatuan, dan nilai luhur masyarakat tetap menjadi fondasi dalam menatap masa depan.
- Reporter : KRA. Anang Sastro.












